November 11, 2009 oleh akwalpersada

Mobile
Beberapa bulan musim hujan berlalu, di mana-mana terlihat pohon menghijau. Seekor ulat nampak di antara dedaunan menghijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.
“Apa kabar daun hijau,” katanya. Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. “oh, kamu ulat. Badanmu kelihatan kurus dan kecil, mengapa?” tanya daun hijau.
“Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bolehkah engkau membantuku sahabat?” kata ulat kecil. ” Tentu.. tentu.. Dekatlah kemari.” Daun hijau berfikir, ” jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya saja aku akan kelihatan berlubang-lubang.”
Tapi tak apalah. Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau.
Setelah makan dengan kenyang ulat berterimakasih kepada daun hijau yang telah merelakan bahagian tubuhnya menjadi makanan si ulat.
Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau.
Sekalipun tubuhnya kini berlubang di sana-sini namun ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar.
Apa yang telalu berarti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama?
Membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak meminta tolong. Tak rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri.
Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah.

***
Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna.
Akhirnya ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar.
Demikianlah kehidupan kita. Hidup di dunia ini hanya sementara, kemudian kita akan hidup kekal di alam lain.

November 11, 2009 oleh akwalpersada

Kejahatan itu telah begitu tua. Tidak tahulah berapa sebenarnya usianya.
Dia sudah hidup subur dan maju jaya. Daerah kekuasaanya sudah begitu meluas dari zaman ke zaman.
Banyak yang sudah bersatu denganya, banyak pula yang telah mendukungnya. Ada yang dengan secara relanya bersubhat denganya. Berbagai gaya bantuan dan dukungan telah diberikan kepadanya.
Asalkan hidup ini senang dan mewah! Itu sajalah upahnya!
Manusialah yang sebenarnya telah menghidupkannya dan memberi layanan istimewa kepadanya.
Ada yang sanggup membelakangkan agama karena mengejar kesenangan dan kepuasan nafsu mereka.
Mereka sanggup memutar-belitkan hukum dan dalil agama semata-mata untuk menyesuaikan tuntutan kehendak selera dan nafsu kesenangan hidup mereka.
Mereka sanggup berpura-pura dengan segala tipu muslihat hanya karena kesenangan hidup yang sementara ini.
Mereka telah menjual nilai-nilai keperibadian yang mulia yang ada di dalam diri mereka hanya semata-mata takutkan susah hidup dan sedikit miskin di dalam hidup ini.
Demi mencari sesuap nasi, gadis-gadis berkerudung melepas kerudungnya demi kerja. Banyak gadis berkerudung terperangkap dengan keadaan yang terdesak ini, akhirnya palsulah status jilbab dikenakanya.
Lebih jauh lagi, demi sekolah, demi pekerjaan, demi nafkah anak istri, Iman digadai, Islam dibuang. Murtad!
Mereka akan berkata… Kita tidak perlu bersusah hati karena kita boleh meminta ampun kepada Allah! Buat sementara ini… apa yang perlu ialah… kita mesti hidup senang!
Kita mesti pentingkan diri kita sendiri! Kita mesti berusaha segenap daya dan akal kita supaya menjadi kaya -raya dan bersukaria di dalam hidup ini.
Alangkah indahnya hidup ini! Kenapa kita perlu risau tentang perkara kebaikan atau nilai-nilai mulia moral??!! Itu semua adalah kerja orang yang bodoh dan hanya menyusahkan diri sendiri saja!
Itu semua adalah pengetahuan orang-orang yang bodoh yang tidak tahu tentang betapa baiknya Allah kepada kita yang akan mengampunkan segala kesalahan dan dosa kita…

November 11, 2009 oleh akwalpersada

Uploaded via Facebook Mobile
PERIBADI BERZIKIR. Dzikir menjadi keperibadian, Alloh tujuannya, Rosululloh teladannya dalam hidup.

Dunia ini menjadi surga sebelum surga sebenarnya.
Bumi menjadi Masjid baginya.
Rumah, kantor, bahkan hotel sekalipun jadi mushola baginya.
Tempat berpijak, lantai ruang kerja, lantai kamar tidur, jalan-jalan berbatu dan beraspal hamparan sajadah baginya.
Kalau bicara, bicaranya dakwah.
Kalau berdiam, diamnya berzikir.
Nafasnya tasbih, matanya penuh rahmat, penuh kasih sayang Alloh…
Telinganya, terjaga.
Pikiranya, baik sangka, tidak sinis, tidak pesimis, dan tidak suka memvonis.
Hatinya, SubhanALLOH… Diam-diam berdo’a, do’anya diam-diam…
Tangannya, bersedekah.
Kakinya berjihad di jalan Alloh… Jihad mencari ilmu, mengamalkan ilmu, mengabdi kepada Ilahi, tak mau melangkah sia-sia.
Kekuatannya bersilaturrahim, menjalin ukhuwah.
Kerinduannya, kepada Alloh, tegaknya syari’at Alloh… Kalau memang hak tujuanya, maka sabar dan kasih sayang strateginya.
Asma amanina, cita-citanya ter agung, syahid di jalan Alloh…
Dan sungguh menarik… Kesibukannya, ia hanya asik memperbaiki diri.
Tidak tertarik mencari kekurangan… Apalagi aib orang lain…
Hadirilah majlis-majlis dzikir, raihlah KEPERIBADIAN BERZIKIR, dengan selalu hadir, menikmati hidangan hidayah Alloh Azza wa Jalla… Yang terlezat…. SubhanALLOH…

DZIKRULLOH….

KHIDMAH beribadah dan dzikir

November 11, 2009 oleh akwalpersada

Taubatannasuha… Adalah taubat yang sungguh-sungguh… Pertama dan terakhir…
Ia berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Menyesal, tidak pernah bangga dengan masa lalunya.
Mudah menangis, dan ia sangat bersemangat, sangat bersemangat mengejar kebaikan dan perbaikan…
Sunnah menjadi wajib baginya, makruh menjadi haram, mubah menjadi berkah…
Ia jaga dirinya bergaul kepada orang-orang sholeh…
Dan, ia bahkan mengajak saudara-saudaranya yang terlanjur sesat, untuk kembali ke jalan Alloh…
Sebagaimana dirinya yang mendapat hidayah Alloh… Setidaknya itulah sedikit ciri taubatan nasuha, dan itu karunia dari Alloh, sekali lagi karunia dari Alloh…
Selama kita hidup jangan pernah pesimis, optimislah, ada harapan untuk bertaubat…
Maha bijaksana Alloh… Maha kasih sayang Alloh..
Betapapun hebatnya dosa-dosa-dosa-dosa yang kita lakukan, yang kita sembunyikan di muka bumi ini.
Sungguh ampunan Alloh lebih besar dari pada dosa kita…

Ikhwah…

Segeralah bertaubat, jangan tunggu lagi, Alloh menanti taubat kita….

Dzikrulloh…

KHIDMAH dzikir dan ibadah

pelajaran di jalan

November 11, 2009 oleh akwalpersada

Dengan bus malam seorang pemuda pulang sendiri ke kampung halaman

Mengikuti rasa rindu… Di iringi rintik hujan, rindu Pada kampung halamannya, pada seorang ayah yang menunggunya, pada seorang ibu yang mengasihinya… Pada adik-adik yang di kasihinya.

Duduk d hadapannya, seorang bapak-bapak agak tua.

Sejenak dia berdzikir… La… Ila… Ha’illalloh….

Sebelum terhenti dengan kedatangan anak-anak kecil.

Tangan-tangan mungil terulur di dada, beberapa anak-anak kecil meminta-minta…

Meski larut malam mereka terus masih di jalan… Bus mulai berjalan menulusuri jalan kota… anak kecil itu memulai aksinya…

Bernyanyi dengan nada sumbang mengharap iba…

Pemuda itu merogoh dompet dari kantong celananya, mengeluarkan selembar uang untuk anak-anak kecil itu… Anak-anak kecil itu tersenyum dan berterima kasih pada pemuda itu.

Anak-anak kecil itu bertanya, kok banyak sekali mas?

Pemuda itu hanya tersenyum dan mengelus kepala salah satu anak itu dengan mata berkaca-kaca,terbayang masa kecilnya, adiknya sekarang dan berkata:
Kuharap hari esokmu tak di jalan lagi, hidup ini pasti akan silih berganti.
Mestinya kalian kini bahagia… Bermain bersama kawan-kawan kalian dan bergembira…

Anak itupun menjawab: memang gembira dan bahagia itu yang bagaimana mas? Kami senang kok, meski di jalanan.

Pemuda itu bertanya lagi: memang ayah ibu kalian dimana? Apa mereka tidak kerja?

Anak kecil itu menjawab sambil bermuka masam: bapak sy sudah meninggal, ibu saya cari botol-botol bekas…

Kamu masih enak, la aku, bapak ibuku tidak tau dimana…

Pemuda itu menangis… Pemuda itu teringat akan masa kecilnya, masa di saat dia harus bekerja di jalanan membantu kedua orang tuanya yang sering sakit.

Masa di saat semua cita-citanya terkubur bersama selesainya sekolah dasarnya, masa babak baru dalam pencarian kehidupan, sambil menyempatkan belajar disebuah pesantren… Meski beberapa waktu jam untuk belajar dan harus mengair rizki lagi.

Bus itu berhenti agak lama di sebuah halte untuk mengangkut penumpang, anak-anak kecil itupun turun bersama berhentinya bus itu.

Sambil pergi anak-anak itu melambaikan tangan pada pemuda itu sambil berkata: sampai jumpa mas… Terima kasih ya…

Pemuda itu membalas: iya sama-sama… Hati-hati ya… Air matanya kembali menetes…

Meski rintik hujan mereka terus bernyanyi, satu dua yang lewat… Yang kadang memberi uang…

Apa yang terjadi… Kalian tanggung sendiri, jika siang, debu dan matahari, kadang hujan kan jadi saksi, jika malam, dingin dan gelap jadi saksi kalian adalah anak manusia sejati…

***

Pahit masa kecil adalah ujian… Hidup tak banyak memberi pilihan…

Sahut bapak-bapak yang duduk d hadapan pemuda itu…

Yang tak sadar kalau dari tadi ia memperhatikanya dengan wajah sendu kelabu…
Penuh rasa haru ia menatap pemuda itu
Penuh rasa haru ia memandang pemuda itu

Seakan ingin memeluk diri pemuda itu…

Ia lalu bercerita tentang anaknya lelakinya yang telah tiada.

Karna sakit yang tak terobati…
Bapak itu berkata… Dia mirip denganmu nak… Wajahmu hampir mirip dengannya….

Seandainya dulu cepat di obati… Dia akan seumur denganmu… Seandainya rumah sakit mau mengobati dulu sebelum dibayar… Tapi itulah hidup… Yang berkuasa akan semakin berkuasa jika orang kecil didekatnya…

Bapak itu menangis… Pemuda itupun ikut larut dalam sedihnya… Karna dia pernah mengalaminya… Ketika bapaknya sakit…

Sepanjang perjalanan itu pemuda dan bapak-bapak itu terus bercengkrama.. Bagaikan anak dan ayahnya… Penuh haru juga canda…

Sampai saat pemuda itu harus turun untuk kembali naik ojek ke rumahnya… Sebelum pemuda itu pergi, pemuda itu berkata: Bapak, jika lain kali lewat, bapak mampirlah ke gubuk saya, saya akan dengan senang hati menyambutnya…

Bapak-bapak itupun berkata…
InsyaALLOH… Kamu juga jika ada waktu, mainlah kerumah bapak, sambil bapak itu menuliskan alamatnya disebuah kertas…

*** apakah di dalam setiap manusia, uang itu sangat penting? Sehingga nyawa harus bertekuk lutut dengan uang?
*** apakah pantas anak kecil harus sampai malam di jalanan mengais uang?
*** apakah tidak bisa, hidup dalam kesederhanaan harta?
*** apakah uang selalu di utamakan ketimbang kebahagiaan anak kita?
***Apakah tidak cukup Karunia shngga kita tinggalkan anak kita?

*** NB. Kisah ini yang nyata menggunakan bahasa jawa.
*** di dedikasikan kepada seorang bapak dan adik-adik kecil dalam cerita… Saya banyak belajar dari kalian… Penderitaan yang diberi pada kita, bukan karna Alloh tak sayang pada kita… Tp itulah salah satu bukti cintanya… Sehingga kita di ingatkanya…

golongan benar

April 30, 2009 oleh akwalpersada

“umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tig golongan. semuanya masuk neraka kecuali satu golongan” di tanyakan kepada Beliau;

siapakah mereka wahai Rosul Allah?  beliau menjawab;  Orang orang yang mengikutiku dan para sahabatku. ” HR Abu dawud, At Tirmizi, Ibnu Majjah, Ahmad, Ad-Darami dan Al Hakim.

Berdasar Hadis ini, saat ini banyak kelompok yang mengklaim bahwa kelompok-nyalah yang menjadi golongan paling benar (golongan yang 1 diantara 73)

Terus terang, secara peribadi, saya sendiri juga tidak tahu apakah yang sebenarnya di maksut dalam hadis tersebut dan siapa yang masuk dalam golongan yang selamat ini.

Tapi saya agak perihatin kalau ada orang menepuk dada sebagai sebagai penganut islam yang paling benar dan mekunjuj-nunjuk orang lain sebagai yang salah, sesat, bid’ah.

Pertanyaan saya, di zaman kita ini, manusia mana yang memiliki otoritas dan justifikasi untuk mengklaim dirinya benar atau salah?

Dan, dengan menuduh kelompok  lain sebagai salah, sesat, bid’ah dllapakah itu bukan sebuah kezaliman?

Bagaimana kita bisa di sebut takwa jika kita masih belum mampu berbuat adil dan masih bertindak zalim?


” hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil.

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mandorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Maidah;8)

Orang yang membangga-banggakan golongan sendiri dan memecah belah agama disitir oleh qur’an sebagai sifat musyirikin.

Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka(. Ar-Ruum;31-32)

Kalau saya sendiri, sebagai orang muslim akan selalu mencari dasar dalam kemusliman saya ini dengan dasar yang saya anggap benar.

kalaupun ada pihak lain yang ternyata berseberangan , mari bersama kita kaji lagi Qur’an dan sunnah. kalau masih belum ada titik temu, ya kita kembalikan kepada Allah yang maha mengetahui hakikat kebenaran, tanpa harus menuduh-nuduh dan menyalahkan.

saya teringat, guru saya pernah bilang, kalau kita temui keraguan dalam agama, kuncinya adalah pertama, cari ilmu dan dasarnya dan kedua jaga sholatnya. beliau juga mengajarkan doa yang indah:

Allahummanawwir qalbi bi-nuuri hidayatika. wa yassir kullal asysyir watammam bil-khair.

(Ya Allah sinarilah qalbuku dengan cahaya petunjuk-Mu. Mudahkan setiap kesulitan. Dan sempurnakan dengan kebaikan.)

Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang diridhai-Nya

Amin.

aksara jawa

April 27, 2009 oleh akwalpersada

honocorokodotosowolopodojoyonyo

Hello world!

April 27, 2009 oleh akwalpersada

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!