Dengan bus malam seorang pemuda pulang sendiri ke kampung halaman
Mengikuti rasa rindu… Di iringi rintik hujan, rindu Pada kampung halamannya, pada seorang ayah yang menunggunya, pada seorang ibu yang mengasihinya… Pada adik-adik yang di kasihinya.
Duduk d hadapannya, seorang bapak-bapak agak tua.
Sejenak dia berdzikir… La… Ila… Ha’illalloh….
Sebelum terhenti dengan kedatangan anak-anak kecil.
Tangan-tangan mungil terulur di dada, beberapa anak-anak kecil meminta-minta…
Meski larut malam mereka terus masih di jalan… Bus mulai berjalan menulusuri jalan kota… anak kecil itu memulai aksinya…
Bernyanyi dengan nada sumbang mengharap iba…
Pemuda itu merogoh dompet dari kantong celananya, mengeluarkan selembar uang untuk anak-anak kecil itu… Anak-anak kecil itu tersenyum dan berterima kasih pada pemuda itu.
Anak-anak kecil itu bertanya, kok banyak sekali mas?
Pemuda itu hanya tersenyum dan mengelus kepala salah satu anak itu dengan mata berkaca-kaca,terbayang masa kecilnya, adiknya sekarang dan berkata:
Kuharap hari esokmu tak di jalan lagi, hidup ini pasti akan silih berganti.
Mestinya kalian kini bahagia… Bermain bersama kawan-kawan kalian dan bergembira…
Anak itupun menjawab: memang gembira dan bahagia itu yang bagaimana mas? Kami senang kok, meski di jalanan.
Pemuda itu bertanya lagi: memang ayah ibu kalian dimana? Apa mereka tidak kerja?
Anak kecil itu menjawab sambil bermuka masam: bapak sy sudah meninggal, ibu saya cari botol-botol bekas…
Kamu masih enak, la aku, bapak ibuku tidak tau dimana…
Pemuda itu menangis… Pemuda itu teringat akan masa kecilnya, masa di saat dia harus bekerja di jalanan membantu kedua orang tuanya yang sering sakit.
Masa di saat semua cita-citanya terkubur bersama selesainya sekolah dasarnya, masa babak baru dalam pencarian kehidupan, sambil menyempatkan belajar disebuah pesantren… Meski beberapa waktu jam untuk belajar dan harus mengair rizki lagi.
Bus itu berhenti agak lama di sebuah halte untuk mengangkut penumpang, anak-anak kecil itupun turun bersama berhentinya bus itu.
Sambil pergi anak-anak itu melambaikan tangan pada pemuda itu sambil berkata: sampai jumpa mas… Terima kasih ya…
Pemuda itu membalas: iya sama-sama… Hati-hati ya… Air matanya kembali menetes…
Meski rintik hujan mereka terus bernyanyi, satu dua yang lewat… Yang kadang memberi uang…
Apa yang terjadi… Kalian tanggung sendiri, jika siang, debu dan matahari, kadang hujan kan jadi saksi, jika malam, dingin dan gelap jadi saksi kalian adalah anak manusia sejati…
***
Pahit masa kecil adalah ujian… Hidup tak banyak memberi pilihan…
Sahut bapak-bapak yang duduk d hadapan pemuda itu…
Yang tak sadar kalau dari tadi ia memperhatikanya dengan wajah sendu kelabu…
Penuh rasa haru ia menatap pemuda itu
Penuh rasa haru ia memandang pemuda itu
Seakan ingin memeluk diri pemuda itu…
Ia lalu bercerita tentang anaknya lelakinya yang telah tiada.
Karna sakit yang tak terobati…
Bapak itu berkata… Dia mirip denganmu nak… Wajahmu hampir mirip dengannya….
Seandainya dulu cepat di obati… Dia akan seumur denganmu… Seandainya rumah sakit mau mengobati dulu sebelum dibayar… Tapi itulah hidup… Yang berkuasa akan semakin berkuasa jika orang kecil didekatnya…
Bapak itu menangis… Pemuda itupun ikut larut dalam sedihnya… Karna dia pernah mengalaminya… Ketika bapaknya sakit…
Sepanjang perjalanan itu pemuda dan bapak-bapak itu terus bercengkrama.. Bagaikan anak dan ayahnya… Penuh haru juga canda…
Sampai saat pemuda itu harus turun untuk kembali naik ojek ke rumahnya… Sebelum pemuda itu pergi, pemuda itu berkata: Bapak, jika lain kali lewat, bapak mampirlah ke gubuk saya, saya akan dengan senang hati menyambutnya…
Bapak-bapak itupun berkata…
InsyaALLOH… Kamu juga jika ada waktu, mainlah kerumah bapak, sambil bapak itu menuliskan alamatnya disebuah kertas…
*** apakah di dalam setiap manusia, uang itu sangat penting? Sehingga nyawa harus bertekuk lutut dengan uang?
*** apakah pantas anak kecil harus sampai malam di jalanan mengais uang?
*** apakah tidak bisa, hidup dalam kesederhanaan harta?
*** apakah uang selalu di utamakan ketimbang kebahagiaan anak kita?
***Apakah tidak cukup Karunia shngga kita tinggalkan anak kita?
*** NB. Kisah ini yang nyata menggunakan bahasa jawa.
*** di dedikasikan kepada seorang bapak dan adik-adik kecil dalam cerita… Saya banyak belajar dari kalian… Penderitaan yang diberi pada kita, bukan karna Alloh tak sayang pada kita… Tp itulah salah satu bukti cintanya… Sehingga kita di ingatkanya…